4 Alasan Kenapa Kamu Harus Berhenti “Nembak” Sekarang Juga [Kenshuusei Wajib Baca!]

Coba kamu ingat-ingat, sampai hari ini sudah berapa kali kamu nembak kereta di Jepang? Kapan terakhir kali kamu pergi jalan-jalan tanpa membayar tiket dengan harga yang sesuai? Dari mulai sekadar pergi ke kaisha, ketemuan sama temen, atau ketika ryokou saat liburan musim panjang.

Tidak terasa memang. Kamu masih menganggap ini hal yang biasa yang lumrah dilakukan oleh kita para kenshuusei. Ibaratnya, 3 tahun di Jepang kalau nggak pernah nembak, belum jadi kenshuusei sejati namanya. hehe

Memang sih secara hitung-hitungan matematika, dengan “nembak” sedikit banyaknya bisa menghemat pengeluaran kita. Atau mungkin kita juga punya anggapan, “Alaah, nggak apa-apa lah nembak, dulu juga Jepang ngejajah kita”.

Tapi tahu nggak, pai? Disadari atau tidak, kebiasaan “nembak” ini justru bisa berdampak buruk dan malah merugikan diri kita sendiri.

Kali ini mimin mau sedikit cerita mengenai pengalaman dari teman-teman kenshuusei yang mudah-mudahan bisa menghilangkan kebiasaan “nembak” ini. Ada 4 macam alasan yang bakal bikin kamu nyadar kalau kebiasaan ini harus segera dihentikan. Douzo yonde kudasai!

Sebagian Kenshuusei ternyata sudah kecanduan dengan “kiseru” ini sejak puluhan tahun lalu. Sudah banyak cerita juga yang akhirnya malah dipulangkan karena ketahuan. hehe

Berdasarkan pengamatan dan bertanya kepada para senpai yang sudah lebih dulu kembali ke tanah air, istilah “nembak” ini sudah ada sejak akhir tahun 90an. Cara yang dipakai pun hampir sama dengan yang sekarang.

Tapi masalah muncul karena ada beberapa kenshuusei Indonesia yang ketahuan oleh petugas stasiun dan akhirnya diberikan macam-macam sanksi dari mulai denda membayar sejumlah tiket full, sampai kemungkinan terburuknya adalah dipulangkan ke tanah air. Ngeri kan, pai? 🙁

Sejak tahun 2000an, seiring bertambahnya jumlah kenshuusei di Jepang, kiseru san pun semakin banyak, bahkan kenshuusei perempuan pun berani melakukannya.

Kiseru San (sebutan untuk orang yang suka “nembak”) mulai marak dan biasa dilakukan para kenshuusei sejak tahun 2000an. Cara ini dinilai menjadi solusi para kenshuusei karena bisa menekan pengeluaran. Keahlian ini tidak hanya dikenal di kalangan kenshuusei Indonesia, kenshuusei asing seperti China, Vietnam, bahkan para ryuugakusei (mahasiswa) pun bisa melakukannya.

Pemerintah Jepang pun bukan tak mengambil tindakan dengan hal ini, dari dulu mereka sudah membuat peraturan tegas kepada Kiseru San agar jera melakukan aksinya. Karena terkadang Orang Jepang pun ada yang melakukan tindakan ini.

Hal ini bisa berdampak pada citra buruk Indonesia di mata Negara Jepang. Akibatnya mungkin bisa saja perusahaan-perusahaan di Jepang menghentikan kerjasama menerima pegawai asing termasuk kenshuusei. Kasian kan kouhai-kouhai kita yang pada pengen ke Jepang 🙁

Nembak bisa bikin rugi dan malah menghabiskan uang kita. Kok bisa?

Mimin sempat nanya ke salah satu teman yang “tobat” dari kegiatan nembak ini. Dia bilang ternyata nembak itu malah bikin rugi dan merepotkan dirinya sendiri.

Jadi ceritanya di tahun pertama dan kedua dia sering ke mana-mana tanpa memiliki tiket full. Skillnya menembak juga patut diacungi jempol. Berbagai jenis kereta berhasil dia taklukkan.

Namun apa yang terjadi? Di tahun itu juga, dia banyak mengalami kerugian besar. Banyak uangnya yang keluar secara mendadak. Misalnya saja dia mengalami kehilangan barang berharga, jam kerjanya semakin sedikit, atau bahkan keluarganya di Indonesia ada yang mengalami musibah, sakit misalnya. Sehingga membuat dia harus mengirim banyak uang untuk biaya pengobatan.

Akhirnya setelah dihitung-hitung, yang tadinya ingin menekan pengeluaran, malah habis tak berbekas. Tabungannya pun tidak banyak tersisa.

Setelah pengalaman pahit itu, akhirnya di tahun ke-3 dia memutuskan untuk berhenti nembak dan mulai hidup normal dengan membeli tiket sesuai harganya. Solusinya yaitu dengan membeli tiket terusan seperti 18 kippu, atau one day pass ticket. Lumayan lah bisa berhemat sedikit. Tapi setelah itu, masalah-masalah berkurang, usahanya di Indonesia pun lancar. Gimana, masih mau “nembak”?

Dilihat dari sisi agama, bukankah perbuatan ini termasuk dosa karena merugikan orang lain?

Wiping debts away.

Nembak itu perbuatan dosa lho. Percaya gak? Buktinya setiap kamu ngelakuin hal ini, pasti hati kamu diliputi perasaan was-wasa, takut, cemas, dan perasaan buruk lainnya. Sama seperti kita melakukan dosa-dosa lain semisal mencuri, mengintip, dan lain-lain. hehe

Kita sebagai umat muslim harusnya sadar akan itu. Jangan sampai 3 tahun di Jepang ternoda dengan hal seperti nembak. Akhirnya mimpi-mimpi kita pun sirna tak berbekas karena suatu saat, baik masih di Jepang ataupun ketika sudah kembali ke Indonesia, pasti akan ada sesuatu yang terjadi akibat perbuatan kita sekarang.

Itulah 4 alasan kenapa kamu para kenshuusei harus berhenti nembak sekarang juga. Ini hanya berdasarkan pengalaman dan sudut pandang mimin aja sih. Silahkan diresapi baik-baik, jika ada yang kurang berkenan silahkan dikomentar saja. hehe

 

Arigatou Gozaimasu

2 Comments

  1. Arfa 5 Februari 2018
  2. Anton Gencar 19 Februari 2018

Add Comment