Antara Elegi dan Cahaya Karya Rizky Sanjaya

Seketika menjadi lupa akan orang yang telah bersemayam lama dihati, sangatlah mustahil terjadi bagiku. kendatipun kita sudah tidak saling menggenapi.

Lantas aku tidak ingin menyesal atas waktu yang berlalu terlampau lama, namun tak cukup membuat kita tetap utuh.

Sebab kau pernah ada untukku dan menemani segala hiruk pikuk beserta kesunyian alam semesta bersama. terima kasih setulus hati yang mulai lapang menerima kenyataan ini.

Berbahagialah dengan pilihanmu sekarang (aku pun juga), meski jalan hidup memang tak semestinya yang diharapkan. Maaf atas segala kecewa yang telah terjadi tanpa pernah kau inginkan (aku pun juga).

Aku ksatria langit yang gagal menjaga langitmu tidak mendung menyebabkan tangismu tak terbendung. Aku terlalu sibuk dengan egoistis mengejar impian ke negeri cahaya demi pencapaian yang tanpa sadar membuatmu harus mengalah untuk aku pertahankan.

Bila bagimu ketika mengingat ku membuatmu perih, maka biarkan kisah kita menjadi elegi yang menanti kepunahan.

Dan jika tidak, semoga kita tidak saling mengenang dengan penuh penyesalan dan rasa sakit hati, sebab kau pernah menjadi laksana embun pagi di kala siang begitu menyengat ku; kau mampu meredam amarah ku.

Engkau pernah menjadi getar yang tak pernah aku ketahui apa sebabnya; hingga kisah semu itu berlalu dan berakhir dengan perpisahan kau dan aku.

Hidup mengajarkan kita memilih dari berbagai pilihan. Tetap melangkah atas jalan yang telah dipilih. Semoga kelak kita bertemu lagi dengan keadaan hati yang telah terbiasa, tanpa rasa benci mendalam yang membekas dalam kenangan.

Doa terbaik ku menyertaimu dari negeri cahaya (Nippon).

 

Karya : Rizky Sanjaya

Add Comment